Burung Lagi:Ingat Syairnya Ingat Kuncinya

Tulisan saya terdahulu yang berjudul 'Burung' terinspirasi dari Mocking Bird yang membawa saya pada keteguhan seekor burung yang tetap bernyanyi dipagi hari meskipun sering kali disakiti oleh manusia. Tulisan kali ini berjudul 'Burung Lagi:Ingat Syairnya Ingat Kuncinya', karena masih seputar burung.

Sepertinya burung mempunyai tempat di hati Tuhan. Burung sering digunakan sebagai perumpaan untuk memberi pelajaran pada manusia yang terkenal cerdas dan beradab itu. Bisa jadi, Tuhan memilih burung setelah manusia sebagai mahluk kesayanganNYA. Karena itu, saya harus menulis tentang burung untuk kedua kalinya.

Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika mendengar kata burung ?. Apakah Anda membayangkan tulisan burung ? atau Anda membayangkan seekor burung ?. Kalau Anda membayangkan seekor burung berarti Anda masih tergolong manusia normal, karena kalau Anda membayangkan penis, saya, sangat percaya diri mengatakan, Anda sudah tidak normal lagi.

Seekor burung eh tiga ekor burung lah yang ada dalam lagu Tree Little Birds yang dibawakan oleh Bob Marley yang memberi inspirasi. Lagu ini menggambarkan, seorang Bob Marley melihat tiga ekor burung di tangga rumahnya sambil berkicau dan menyampaikan pesan 'Jangan pernah kuatir, semua akan baik-baik saja'. Tadinya saya berfikir, bahwa, indahnya kehidupan burung yang tidak pernah kuatir akan masa depan hanya sepihak, hanya dari sudut pandang manusia. Sama halnya ketika kita memandang satu keluarga yang kelihatannya penuh kebahagiaan karena terbungkus dengan kemewahan, ternyata, di dalamnya seperti neraka. Seandainya, kita bisa memahami bahasa burung, seandainya Bob Marley mengerti bahasa burung yang hinggap di tangga rumahnya, bisa saja burung itu tidak memberikan pesan 'Jangan pernah kuatir, semua akan baik-baik saja' kepada pada Bob Marley akan tetapi justru pesan 'Hei Bob, hidup kami susah sekarang, kami tidak ada tempat untuk bersarang lagi, cari cacing dan remah-remah tidak semudah seperti di jaman para Nabi'. Bisa jadi kan ?

Tetapi, setelah saya merenung kembali, saya yakin burung itu memang tidak pernah kuatir akan masa depannya, tidak pernah sakit hati karena sarang dan anaknya yang masih berkulit merah dilempar pakai batu. Saya yakin, nyanyian burung di pagi hari kalau diterjemahkan menjadi 'Jangan pernah kuatir, semua akan baik-baik saja'. Yang pasti, burung tidak pernah lupa pada syair lagunya hanya ingat kuncinya. Burung tidak segoblok itu.

Saya masih ingat tulisan Abraham Joshua Heschel yang mengatakan dalam tulisannya, bahwa manusia adalah citra Tuhan yang paling mungkin di bumi ini, bukan kuil atau pohon, bukan patung atau bintang. Citra Tuhan adalah manusia, semua manusia. Tapi, justru manusia sering harus belajar dari binatang. Kita disuruh belajar kepada semut dalam hal kerja sama, semangat gotong royong dan mengucap salam. Kita harus belajar pada burung untuk tidak kuatir dan merasa was-was.

Don't worry about a thing
cause every little thing is gonna be alright
don't worry about a thing
every little thing is gonna be alright

Rise up this morning
smiled with the rising sun
three little birds
pitch by my door step

singing sweet songs
of melodies pure and true
saying, this is my message to you:

don't worry about a thing...

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....