Surabaya o Surabaya

Surabaya o Surabaya, kota kedua terbesar di Indonesia setelah Jakarta. Kota bersejarah yang dijuluki kota pahlawan. Kota yang dihubungkan oleh jembatan terpanjang se Asia Tenggara dengan pulau Madura. Kota yang menjadi tempat lokalisasi terbesar se Asia Tenggara, Dolly. Entah sudah berapakali saya mengunjungi kota ini sejak tahun 2007, tapi tetap saja tidak tau menahu dimana terletak bangunan ITS.

Satu tempat yang menjadi tujuan saya setiap kali berkunjung ke Surabaya adalah Restauran Mie Apeng Medan yang terletak di Jalan Kedung Doro, sentra penjualan spare part mobil dan pernak pernik untuk orang mati. Restauran itu tidak terlalu besar dan sedikit tersembunyi dari pandangan karena banyaknya pedagang kaki lima di depan restaurant tersebut. Sudah pasti, sebelum masuk ke dalam restauran, bau semerbak kembang tujuh rupa membuat imajinasi melanglang buana ke dunia orang mati. Tapi tetap saja restauran itu ramai dan sampai harus pakai kartu antri segala dan harus rela menahan lapar.

Satu blok dari jalan Kedung Doro terlentang jalan yang paling populer, yaitu jalan Darmo tempat bangunan yang menurut saya jadi icon Surabaya yaitu Tunjungan Plaza Mall lebih dikenal dengan TP. Nah, di gedung inilah saya menyaksikan tren fashion baru dikalangan cewek-cewek Surabaya satu tahun terakhir ini yaitu paduan antara T-Shirt dan celana pendek.

Entah kegerahan atau ada alasan lain, tren memakai celana pendek yang pendeknya sekitar satu setengah jengkal dari lutut semakin semarak. Alhasil, mata para lelaki, termasuk saya tentunya, serasa mendapat berkah dari langit dengan pemandangan paha-paha nan mulus dan kaki yang panjang. Tentu saja tidak semuanya mulus, ada saja cewek yang terlalu memaksakan memakai celana pendek meskipun ada banyak bekas koreng di betisnya.

Suka atau tidak suka, peradaban manusia di bumi ini terus bergeser ke arah yang saya tidak tau. Tabu sudah menjadi tidak tabu. Dosa menjadi hal biasa. Takut akan Tuhan sedikit demi sedikit mulai terdegradasi sehingga melakukan hal yang dulu adalah tabu sekarang menjadi tahu sama tahu. Fashion sudah berganti dari serba tertutup menjadi serba terbuka. Celana dalam ukuran besar digantikan dengan G String.

Survey yang dilakukan di Bali minggu ini mengagetkan kita, betapa tidak, siswa-siswi di Bali yang duduk di bangku SMP dan SMA sudah melakukan hubungan sex sebanyak 40 % dari responden. Beberapa tahun yang lalu di Jakarta, survey juga membuktikan bahwa lebih dari 30 % pasangan suami-istri melakukan selingkuh.

Apakah peradaban manusia sedemikian rupa adalah bukti Tuhan sudah berpaling dari manusia ?. Menurut kitab suci, pada awal kehidupan di bumi, Tuhan sangat dekat dengan manusia. Tuhan tidak segan-segan untuk menghukum pendosa dengan tangan Tuhan sendiri. Juga, Tuhan tidak segan-segan 'turun tangan' dan face to face untuk memelihara manusia yang seturut dengan perintahNYA. Pertanyaannya adalah, kenapa Tuhan tidak bertindak seperti dahulu kala di saat sekarang ?.

Menurut Abraham Joshua Heschel seorang filsuf dan teolog kelahiran Polandia mengatakan, bukan manusia yang mencari Tuhan, tetapi Tuhan lah yang membuka diri dan mencari manusia. Alasan Tuhan untuk mencari manusia adalah kesamaan citra antara Tuhan dan manusia. Lebih jauh Abraham Joshua Heschel mengatakan : " dan apabila memang ada sesuatu di dunia ini yang dilukiskan Kitab Suci sebagai citra dari Tuhan, maka itu bukanlah kuil atau pohon, bukan patung atau bintang. Citra Tuhan adalah manusia, semua manusia.".

Lantas, kenapa para Nabi tidak datang di abad ini untuk mencari manusia ?.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....