Pernikahan Dini:Kambing Congek

Saya meninggalkan tanah kelahiran saya tepat setelah menamatkan SMP menuju kota Bandung. Selang tiga tahun, saya mendengar kabar, dua orang teman perempuan saya di SMP menikah setelah menamatkan SMA. Teman yang pertama menikah dengan seorang pria yang telah berumur sekitar 40 tahun dan yang satu lagi menikah dengan pria yang berumur 35 tahun. Tentu saja saya kaget dan menyayangkan meskipun tidak menyesalkan pernikahan tersebut. Terang saja saya menyayangkan, karena mereka adalah perempuan cantik incaran sejak duduk di bangku SMP.

Apa yang mendasari pernikahan tersebut ?. Apaka karena cinta atau dorongan dari keluarga ?. Saya kira, yang mendasari pernikahan tersebut adalah dua sifat utama manusia. Sifat yang saya maksud adalah kemewahan dan keindahan. Perempuan lebih menyukai hal-hal yang berbau kemewahan dan pria menyukai hal-hal berbau keindahan. Dua sifat ini menjadi paduan yang ideal, dimana keindahan dibalas dengan kemewahan dan kemewahan dibalas dengan keindahan. Itulah sebabnya perempuan akan lebih senang menerima hadiah kalung cantik berlapis emas dan mutiara disana-sini ketimbang hadiah berupa pacul atau linggis dari seorang pria. Pria akan lebih senang menerima hadiah 'kecantikan' luar dan dalam dari seorang perempuan dari pada menerima kalung berlian. Tentu terkecuali buat pria matre. Dalam kalimat yang lebih sederhana, pria akan menawarkan sesuatu yang dia punya yang mempunyai sifat kemewahan, misalnya harta dan jabatan dan berharap perempuan akan rela menjadi pasangannya. Tentu sangat 'ideal' apabila seorang perempuan berparas cantik mendapatkan pasangan yang mempunyai tingkat kemewahan yang tinggi, bila tidak alangkah tidak sebandingnya pasangan tersebut. Sebaliknya, pria dengan tingkat kemewahan yang tinggi 'ideal' nya mendapatkan perempuan yang cantik, bila tidak…kacian deh lu !

Pernikahan haruslah didasari pada kesetaraan dalam arti luas. Ketimpangan strata akan sangat beresiko karena dapat memunculkan sifat mendominasi terhadap pasangan dimana yang lebih dominan akan menjadi penentu dan yang lemah menjadi kambing congek. Pernikahan di atas tentu akan menjadikan pihak perempuan menjadi kambing congek karena pria merasa di atas angin. Lumrah, seseorang yang banyak memberi materi akan lebih dihargai meskipun pemberian tersebut diembel-embeli dengan kata ikhlas. Anda tidak akan bisa lepas dari jeratnya. Sebagai contoh, suatu saat mertua Anda menghibahkan sebuah rumah besar lengkap dengan segala isinya kepada Anda dan ditambah dengan bumbu, ikhlas. Suatu waktu mertua Anda menitipkan 7 keponakan jauh istri Anda untuk tinggal bersama Anda di rumah tersebut dalam waktu tidak tertentu. Pertanyaannya adalah, sejauh mana Anda bisa menolak permintaan tersebut ?. Saya yakin Anda pasti akan kesulitan untuk mengelak permintaan mertua Anda. Inilah yang saya sebut dengan jerat. Jerat-jerat pemberian. Menerima sesuatu dari sebuah pemberian akan menciptakan sifat kambing congek. Karena itu lebih baik mengurangi menerima dan lebih baik menikmati hasil sendiri dari pada pemberian.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....