Cermin

Di tembok gedung sekolah dasar saya ada tertulis 'Perlakukanlah orang lain seperti Anda ingin diperlakukan orang lain'. Saya tidak tahu apakah tulisan itu masih ada atau tidak. Tulisan itu teringat kembali minggu lalu pada saat kami mengadakan pelatihan dengan judul 'Pribadi Unggul' di tempat saya bekerja yang salah satu 'slide' nya tertulis : 'Sikap orang lain terhadap diri kita adalah cerminan sikap kita terhadap orang lain'. Tulisan di tembok itu nyatanya tidak sanggup mengubah hidup saya, apa jadinya kalau sejak kecil anak-anak tidak diajar dengan benar ?

Tentu kalimat terakhir tidak sulit untuk dipahami, artinya kalau kita melakukan kebaikan tentu kita juga akan menerima kebaikan. Sebaliknya, kalau kita melakukan kejahatan kita akan menerima kejahatan pula. Tapi tidak selamanya benar, karena dalam realita, seseorang bisa saja bersikap baik kepada seseorang akan tetapi dia tidak diperlakukan dengan baik. Sebaliknya, seseorang bisa saja selalu bersikap tidak baik kepada orang lain, akan tetapi dia tetap diperlakukan dengan baik.

Adanya anomali tersebut tidak menjadikan kalimat di atas menjadi tidak berlaku lagi. Paling tidak, sikap orang lain kepada kita dapat menjadi pemicu perenungan akan sikap kita. Yang perlu diperhatikan, cermin itu harus digunakan dengan bijaksana karena cermin yang terbuat dari daging manusia bisa saja berbohong.

Menjadi pribadi yang unggul memang butuh keputusan, bukan hanya kemauan. Dibutuhkan revolusi paradigma dan itu harus tumbuh dari dalam diri. Dibutuhkan perenungan yang dalam akan tujuan hidup.

Kata senior saya tadi pagi dalam perjalanan ke kantor, 'Menjadi orang yang baik tidak ada ruginya'.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....