Muhammad Yusuf : Mereka Panggil Aku Ucup

Namanya Muhammad Yusuf, nama yang diambil dari nama Nabi Muhammad S.A.W dan Nabi Yusuf. Abraham mempernakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakup, Yakup memperanakkan Yusuf. Yusuf kemudian menjadi perdana menteri di Mesir, karena jasanya yang mampu memprediksi perubahan cuaca selama 14 tahun ke depan. 7 tahun pertama, Yusuf memerintahkan menanam gandum dan 7 tahun berikutnya menjadi masa kelimpahan di Mesir. Dengan demikian, masa kesusahan selama 7 tahun dapat teratasi karena 7 tahun sebelumnya Yusuf sudah mempersiapkan logistik yang cukup untuk seluruh warga Mesir selama 7 tahun ke depan.

Yusuf sampai dan tinggal di Mesir setelah hampir dibunuh oleh saudara-saudaranya di tanah Yudea dan akhirnya dijual sebagai budak. Sebelum menjadi perdana menteri, Yusuf sempat menjadi pelayan di rumah seorang pejabat kerajaan Mesir dan kemudian difitnah oleh istri pejabat tersebut dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Selama mendekam di penjara itulah menjadi titik balik perubahan nasib Yusuf.

Nama Ucup mencerminkan Abrahamisme. Dia paham betul dari mana agama-agama itu berasal. Ucup percaya Tuhan itu Esa dan si Anu juga mengimani Tuhan itu Esa. Akan tetapi Ucup tidak pernah mengatakan, meskipun dalam hati, bahwa Tuhan nya lah yang paling benar. Ucup tidak pernah kemudian bingung dengan keragaman agama dan tidak pernah berniat meninggalkan agamanya dan mengganti kepercayaan yang lebih 'rasional' dan duniawi. Abrahamisme menjanjikan 'keindahan' setelah mati dan ada kepercayaan yang mengutamakan kedamaian batin di dunia ini.

Ucup, seorang Muslim sejati tetapi tidak fanatik. Tidak fanatik bukan berarti tidak soleh. Ucup selalu menunaikan ibadah 5 waktu. Puasa ? hmm….hanya dihari pertama dan dihari terakhir. Soal takbiran jangan ditanya. Soal kemampuan prediksi, seperti kemampuan Nabi Yusuf, ada dalam darah Ucup meskipun hanya setetes. Ucup mampu untuk memprediksi kapan spare part sebuah mesin harus diganti dan kapan harus diperbaiki. Perhitungan MTTR dan MTTF makanan dia sehari-hari.

Ucup seperti Yusuf, tidak pernah kuatir dan tidak pernah mengeluh. Meskipun di PHK, Ucup santai saja. Ucup percaya bahwa setelah masa kesusahan akan terbit masa yang penuh harapan. Buktinya, selama jobless, Ucup santai saja dan menikmati putaran jarum jam tanpa beban. Teman-temannya beragam, dari yang beragama Abrahamisme, Atheis sampai yang percaya bahwa Tuhan itu adalah Alien. Ucup tidak pernah menjaga jarak dengan teman-temannya yang berbeda kavling (agama).

Ucup berpandangan bahwa penghakiman bukan bagiannya. Pilihan kavling itu urusan iman masing-masing dan resiko menjadi tanggungan sendiri. Wong, anak dan istri sekalipun tidak menjadi tanggungan suami pada saat penghakiman terakhir. Ucup lebih memilih menjadi teladan daripada berdebat kusir soal kavling. Ucup lebih memilih mengalihkan pandangan matanya dari sosok perempuan yang melenggang kangkung di mal yang memakai celana pendek daripada menebarkan kebenciannya.

Yah, Muhammad Yusuf, mereka panggil aku Ucup bukan Ucun.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....