Thank God its Friday : Ayam Jantan

Teman saya, kewarganegaraan USA asal Vietnam mengatakan kepada saya 8 tahun lalu, “Saya menilai seseorang dari bagaimana dia memelihara toilet di rumahnya”. Yup..saya setuju, toilet adalah cerminan pemilik rumah. Hasil karya adalah potret si pembuatnya. Seorang penulis pun dapat dinilai dari judul tulisannya. Contohnya, saya, jika Anda mengunjungi blog cangkirkayu.blogspot.com maka Anda akan menemukan judul tulisan yang hampir sama. Judul tulisan saya merefleksikan gejolak dalam hati dan pikiran saya.

Kali ini saya tertarik dengan ayam, karena itu, tidak heran, kalau di benak saya selalu ada gambar ayam, perilaku ayam. Entahlah, terkadang saya jadi menaruh curiga kepada pembaca, “Jangan-jangan Anda akan nyengir kuda memastikan saya pasti atau sedang memikirkan ayam kampus”. Jesss...demi langit dan bumi yang sebenarnya bukan milik saya lalu saya jadikan jaminan untuk sumpah saya, ayam yang saya pikirkan sekarang ini benar-benar ayam, ya, ayam yang sesungguhnya bukan ayam kampus.

Melihat ayam jantan, memikirkan ayam jantan, buat saya adalah kesedihan sekaligus motivasi bukan kejantanan. Sama halnya, bila saya harus melayat ke rumah duka, buat saya adalah kengerian dan kekerdilan. Karena melihat mayat kaku, saya merasa kerdil, ketakutan, kengerian karena saya terkadang membayangkan suatu saat saya akan terbujur kaku sebelum mimpi-mimpi tercapai. Itulah kesedihan kepada kita dengan ekspektasi tinggi yang tidak pernah dapat mensyukuri apa yang ada. Saya kira, ada baiknya, melayat dan bersyukur dengan harapan mengurangi keberingasan, ketamakan kita.
Saya teringat ayam jantan yang pernah saya pelihara hampir 27 tahun lalu. Ayam jantan dengan bulu putih yang berkokok bila sudah melihat matahari terbit tapi anehnya melempem jika hari sudah gelap. Gairahnya, terhadap rutinitas abadi pergantian hari patut diteladani.

Tahukah Anda, menurut penelitian, hampir semua binatang akan bersedih setelah berhubungan sex, kecuali ayam jantan . Ayam jantan akan mengepakkan sayap nya dan berkokok nyaring setelah memuaskan birahinya, seperti ingin menyampaikan pesan, “Hu hu hu i....aku adalah pejantan tangguh, ada lagi yang mau ?”. inilah kecongkakan ayam jantan yang tidak boleh diteladani, berkokok setelah menggagahi betinanya. Nasehat saya kepada para lelaki, jangan pernah meniru perilaku ayam jantan setelah berhubungan sex, bisa digebukin tetangga, gak lucu banget deh. 

Seperti kata pepatah, hari ini ayam jantan besok jadi kemoceng.  Inilah yang saya maksud kesedihan dan motivasi. Bahwa, kita hanya sebentar saja, seperti uap saja. Besok bisa jadi kita sudah abu. Motivasinya, saya harus menikmati hidup ini karena hidup itu begitu singkat. Dalam kesempurnaan, ayam jantan tetap saja menginspirasi seperti pada pernyataan Al-Gore , “George Bush taking credit for the wall coming down is like the rooster taking credit for the sun rising”. Ayam jantan penuh dedikasi dan disiplin, meskipun dalam perilaku sex sedikit norak. Cuape deh....

Selamat berakhir pekan.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....