Ker[j]a: Exit Strategy

Dalam beberapa kesempatan menulis, saya terkadang menganalogikan 'perpindahan yang mulus' dengan salah satu sifat kera atau monyet. Yang saya maksud adalah, kera/monyet (selanjutnya saya sebut kera) selalu menggunakan kedua tangannya pada saat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Perilaku tersebut membuat kera selalu dengan nyaman bila berpindah dari pohon ke pohon. Dalam bahasa yang sedehana, kera selalu memastikan kedua tangannya telah kokoh menggenggam dahan atau ranting di antara dua pohon sebelum berpindah dan kemudian melepaskan salah satu pegangannya. Cara yang demikian memang lebih aman daripada meloncat dari pohon ke pohon dengan resiko terpeleset. Perilaku kera tersebut 'menurun' kepada manusia. Kita, mempunyai kecenderungan untuk memastikan segala sesuatu dalam keadaan baik baru kemudian melakukan 'loncatan'.

Sangat lumrah, seseorang mempertahankan pekerjaannya yang sulit sambil menunggu mendapatkan perkerjaan yang baru. Namun ada kalanya, seseorang langsung memutuskan untuk berhenti tanpa pikir panjang karena ingin segera lepas dari situasi yang sudah hampir membuatnya muntah darah. Cara yang terakhir terjadi dipengaruhi beberapa hal. Diantaranya, dia mempunyai dana yang cukup atau usaha sampingan, percaya diri dan ketidakmampuan dalam menghadapi situasi yang bertentangan dengan keinginannya.

Ada dua hal yang menginspirasi saya dalam tulisan ini. Yang pertama adalah tulisan di Kompas hari kemarin dan curhat saya dengan teman saya pada hari ini. Berita di Kompas, menuliskan seorang kolektor batu mengatakan, bonsai beringin dapat hidup dan bertahan puluhan tahun di atas sebuah batu yang kering dan gersang karena alam memeliharanya. Yang kedua, teman saya mengatakan, ketika seseorang masih bekerja dan membayangkan dia di PHK, maka dia akan kuatir bila hal itu terjadi dan akan berkata dalam hati, 'amit-amit jabang bayi'. Akan tetapi, katakanlah dia di PHK pada hari itu, apakah serta merta nyawanya tercabut dengan sempurna ?. Tidak, kemungkinan besar tidak, karena dia akan menjalani kehidupan barunya yang 'jobless' dengan biasa saja dan situasi akan memaksa dia berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan hidupnya. Bukankah, selama manusia masih mempunyai alasan untuk hidup maka manusia akan mempunyai cara apapun untuk mempertahankan hidupnya ?.

Dampak negatip dari perilaku seperti kera di atas, menurut saya, membuat pengusaha lebih sedikit dari jumlah pekerja. Alasannya, hanya mereka yang mempunyai keberanian untuk memulailah yang lebih banyak berhasil daripada mereka yang terlalu dihantui oleh ketakutan kehilangan penghasilan tetap. Akan tetapi, perilaku itu adalah salah satu 'exit strategy' yang tepat buat seseorang yang tidak kaya-kaya 'amat' ketika berhadapan dengan situasi pekerjaan yang sudah kondusif.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Yang pertama, ketakutan adalah ketidaktahuan kita terhadap apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Karena itu perlu persiapan. Yang kedua, kehidupan selalu membuka pintu tepat pada waktunya. Seringkali, pintu terbuka ketika dalam situasi yang teramat sulit. Bonsai beringin, sekalipun dalam kondisi tanah yang minim, pohon itu tetap bertahan hidup dengan menyesuaikan diri dengan kondisi dimana pohon itu tumbuh dengan mengecilkan ukuran daun dan batangnya sesuai dengan asupan makanan yang ada.

Bila kedua hal itu kita rangkai, maka kita akan mendapatkan pesan, ketika kita dalam ketakutan, maka biarlah ketakutan itu menjadi kekuatan dengan mengumpulkan semua energy untuk mengalahkan ketakutan itu. Toh, ketika apa yang kita takutkan itu terjadi, maka alam akan berbaik hati untuk membuka pintu tepat pada waktunya. Tidak terlalu cepat dan tidak pula terlambat. Percayalah.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....