Mbah Surip: Gone Too Soon

Semula saya tidak terlalu mengikuti perkembangan Mbah Surip, lagu nya pun saya tahu dari anak saya yang memaksa mengikuti dia bernyanyi 'tak gendong' lewat telepon genggamnya.

Di suatu hari, minggu pagi, saya mulai ngeh bahwa lagu yang diajarkan anak saya, ternyata diciptakan Mbah surip setelah menyaksikan dia di televisi.

Dan beberapa hari yang lalu, saya membaca koran yang mengabarkan Mbah Surip meninggal dunia dan saya kemudian mengetaui bahwa Mbah Surip ini adalah pendatang baru di dunia hiburan dan baru beberapa bulan menjadi pesohor baru di negeri ini, berkat lagunya yang sederhana dan bisa diterima di semua kalangan.

Perasaan saya sih biasa saja dan stabil tanpa emosi mendengar kematian Mbah Surip. Akan tetapi kematian Mbah Surip membuat saya merenung sejenak. Betapa kehidupan ini layaknya pelangi yang menghilang dalam hitungan kedipan mata. Pesona Mbah Surip seperti uap, terlihat sejenak dan kemudian hilang. Ketenaran Mbah Surip seperti komet di gelapnya malam, yang bersinar dan hilang ditelan kegelapan. Saya jadi teringat Michael Jackson dan lagunya 'Gone too Soon' :.

Like A Comet
Blazing 'Cross The Evening Sky
Gone Too Soon


Like A Rainbow
Fading In The Twinkling Of An Eye
Gone Too Soon

Ternyata, segala sesuatu yang ada di bawah matahari ini adalah kesia-siaan. Seperti yang dikatakan seorang raja hampir 4000 tahun yang silam, kehidupan seperti menjaring angin. Segala perbuatan di bawah matahari adalah kesia-sian :

Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?. Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"?. Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.

Tuhan memberikan 'segalanya' buat Mbah Surip pada usia yang tidak muda lagi. Sejenak, Tuhan kemudian berkata, 'Enak toh, mantap toh, sekarang waktumu sudah cukup'. Duh…saya menjadi merenung seharian dan menyelami yang tidak mampu saya selami, pikiran Tuhan.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....