O my God its almost Friday again : Ayam Kampus

Lebih dari setengah tahun bertugas “agak” jauh dari rumah, sudah membuat aku terkaget-kaget pada minggu malam lalu di Galaxy Bekasi, betapa tidak, “food court” baru sudah tiba-tiba ada disana dan cukup ramai dan kompetitif dalam harga. Meniru gaya hidup yang sedang trend, wisata malam kuliner sebagai penebus dosa, aku mengajak istri dan anak-anak ku makan malam disana. Saat mereka sibuk memilih makanan ke berbagai “counter makanan”, saya memanfaatkan situasi lengah mereka dengan memberikan kesempatan kepada mata ku yang selama ini hanya melihat para lelaki saja.

Aku jelajahi meja demi meja dengan sudut mataku, apa sih yang dipikirkan para lelaki ? , yak...aku melakukan ‘fast scanning”, mencari wajah wajah wanita nan jelita. Lumayan ketemu object yang lumayan aduhai dan mempesona dengan pakaian serba ketat dan rok yang menyingkap sedikit. Tiba-tiba proses “scanning” tidak sengaja membaca tulisan-tulisan jenis masakan yang tersedia. Ada ayam penyek, ayam nyengir, ayam lapis telor. Wah-wah..dominasi ayam, hanya ayam kampus yang tidak ada.
Aku punya potensi jadi biksu atau jadi vegetarian. Aku bukan pelahap daging, dalam satu bulan aku hanya makan daging satu kali, daging ayam dan karena pertimbangan umur, makan daging mentah paling dua kali seminggu (lol) itupun kalau sempat.

Raja Sulaiman, memberikan nasehat untuk kita belajar dari binatang, belajar dari semut, dari belalang. Lalu apa yang kita dapat pelajari dari ayam ?. Ayam selalu mengais tanah untuk mendapatkan apa yang dinginkan. Inilah bedanya antara ayam sungguhan dengan ayam kampus. Ayam kampus untuk mendapatkan iPad 2 tidak perlu harus “over time”, cukup mengenakan rok mini dan “case closed” dan penikmat ayam kampus ini juga seperti ayam, dia kira dia adalah lelaki perkasa padahal tidak. “He is like a chicken whose head has been cut off, it may run about in a lively way, but in fact it is dead”.

Hoallah...sama sama ayam, tapi tunggu, kita bisa melihat seribu keajaiban di sekitar kita setiap hari. Apa yang lebih gaib daripada kuning telur berubah menjadi ayam? ".

“It takes an egg to make a hen, It takes a hen to make an egg there is no end to what I'm saying, "Life Is Wonderful".

Saatnya makan ayam..

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....