Kreatifitas: “Honey, I'm Horny”

Saya pernah menguji diri sendiri, menguji kreatifitas, sejauh mana saya dapat menulis tanpa harus bergantung kepada ‘mood’. Apakah saya mampu menulis pada saat saya sedang ribut dengan ‘bini’, saat hati sedang ‘galau berkesinambungan’ ?. hmmm....halleluja, alhamdulilah sesuatu banget, saya mampu !. Pernah suatu masa saya menulis dengan berbagai topik tiga judul perhari. Soal kualitas urusan belakangan dulu.
Menulis membutuhkan kreatifitas, bagaimana ide, lalu kata, kalimat dirangkai sedemikian rupa sehingga terjalin paragraph yang mengalir. Itulah tantangannya. Hemat saya, kreatifitas harus digali, explorasi harus dilakukan. Kreatifitas, seperti merobohkan bendungan pasir. Semakin deras air keluar dari luang yang kita buat, semakin bergairah kita membut lubang baru. Semakin deras airnya mengalir dan semakin rapuh bendungannya dan pada akhirnya, kita tidak pernah kehabisan ide.


(foto hanya pemanis  😅 . Foto diambil dari  Boring Shooting   )

Explorasi, kreatifitas saya ibaratkan seperti fantasi sex. Dalam beberapa kesempatan ‘meeting’ dengan staff dimana saya bekerja, saya seringkali mendobrak kebuntuan kreatifitas dengan guyonan sex. Minggu lalu, di hari Sabtu, saya bertanya kepada salah seorang staff dalam sebuah “meeting circle leader”, “Anda pernah berfantasi bermain sex dengan perempuan lain ?”. dengan polosnya dia menjawab, “Iya pernah !”. Ahay......saya katakan, “well done bro !, “Anda berpotensi untuk lebih kreatif dengan terobosan-terobosan baru. Kreatifitas adalah fokus pada detail dan fantasi sex adalah hal yang detail”. “Coba Anda ingat kembali fantasi sex Anda, bagaimana detail itu tercipta, gerakan tubuh, desah nafas dan situasi ruangan”. “Semua itu Anda visualisasikan dengan sempurna dalam fantasi sex Anda, bahkan intensitas cahaya ruangan dimana Anda bermain sex pun dapat Anda konversikan ke satuan KWH”.” Luar biasa !”. “Lalu, kenapa Anda tidak melakukan itu dalam pekerjaan Anda ?”. Seisi ruangan tertawa (tetapi ada yang “nyengir kuda”)

Lalu, staff lain bertanya, “Pak, apakah itu bukan dosa ?”. Saya jawab, “Saya tidak mendorong Anda untuk berbuat dosa dan dosa bukan urusan saya”. “Yang saya ingin sampaikan disini adalah talenta, “skill “ harus di explore, digali sedalam-dalamnya”. Saya membasahi tenggorakan saya dengan air mineral (sambil mikir keras tentunya) dan melanjutkan pembicaraan saya. “Pak, jika Anda berfantasi berhubungan sex dengan perempuan lain dan Anda langsung ke tempat prostitusi dan bermain sex disana, menurut Anda, lebih berdosa yang mana ?”. mereka menjawab, “Yang langsung berhubungan sex”. Saya menjadi minoritas, karena saya berpendapat, fantasi dan langsung sama-sama “berdosa”.

Prinsip “sin bold” yang saya pegang teguh. Ketika harus memilih berbuat dosa, tidak perlu ada dilema, pilih dan lakukan dosa itu secepatnya. Selagi saya mampu untuk tidak berbuat “dosa” maka saya harus menghindar. Tetapi pada situasi saya harus memilih antara “nyerempet-nyerempet dosa” dengan “dosa besar” maka saya harus memilih dosa yang manis, dosa terindah, karena “life is short”.

“Ah...kita sudah jauh dari topik”, “Sekarang, fantasi sex harus dikurangi dan diganti dengan fantasi pada pekerjaan yang futuristik, mencontoh Nabi Musa dengan manejeme delegasi nya”. Saya menutup “meeting” dengan menuliskan “to do list” yang telah kami putuskan.

Pada saat saya meninggalkan ruangan saya berbalik dan bertanya, “ Kebayangkan bagaimana fantasi sex saya ?”......

xixixi...lebay....selamat berakhir pekan.....

Postingan Populer