Jawaban Pamungkas : Kamu Tidak Mengerti Jalan Pikiran Tuhan

Pada suatu kesempatan, seorang teman datang kepada saya untuk mengajukan satu pertanyaan yang mengganjal hatinya. Sambil menyalakan sebatang rokok, dia mulai bertanya, "Kenapa ada orang miskin, kenapa orang yang sudah jelas-jelas melanggar hukum Tuhan dan hukum manusia, melanggar norma, akan tetapi hidup dalam berkelimpahan". Kemudian, saya menyalakan sebatang rokok putih. Sambil menghembuskan asap rokok, saya mulai mencoba memahami kegundahan hati teman saya itu. Akan tetapi, saya tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaannya, tapi memulai bercerita tentang kegundahan -akan hal yang sama- teman saya Lie dan juga istri saya.

Teman saya Lie, bercerita, "Seorang perempuan, teman dekat saya, bekerja sebagai sales asuransi. Dengan berbagai cara, bahkan dengan menjajakan asuransi dengan servis tidur semalam di kamar hotel, dia mampu mengumpulkan uang dalam jumlah besar melebihi gaji seorang direktur. Setelah semua dia dapatkan, dia meninggalkan suaminya. Lama tidak ada kabar, terdengar dia telah menjadi seorang yang "alim". Aktif dalam kegiatan sosial dan rohani bersama suami barunya". Lie, bertanya kepada saya melalui YM, "Ada apa dengan Tuhan, kenapa Tuhan membiarkan itu semua terjadi?". 

Istri saya, memberikan pertanyaan tak terduga di pagi hari di teras rumah kami sebelum saya berangkat ke kantor. "Kenapa ya seorang homo sex yang dia kenal yang memiliki bisnis "event organizer" dengan bayaran ribuan dollar per hari ?". "Kenapa seorang buruh yang 'saleh' banting tulang yang hanya sekedar untuk membayar kontrakan rumah saja tidak cukup?". "Tuhan adil gak sih ?".

Ketiga pertanyaan di atas mempunyai ide yang sama, "Kenapa Tuhan seakan-akan membiarkan saja kehidupan itu bergulir apa adanya meskipun terjadi pelanggaran akan hukum dan ketetapannya". Pertanyaan di atas, bukan pertanyaan yang muncul dari seorang jenius. Semua itu pertanyaan standard dalam kehidupan kita dan jawabannya pun sering kita dengar, sebuah jawaban standard pula, yaitu "Kita tidak mampu menyelami pikiran Tuhan". Sampai disini, kebanyakan dari kita akan terdiam dan menerima saja jawaban tersebut dan melupakan kegundahan hatinya. 

Kepada ketiga orang tersebut, saya memberi jawaban yang hampir sama. "Coba lihat daun yang bergoyang di sana. Apakah Tuhan dengan secara langsung mengatur itu ?". Mereka menjawab sama, " Ya, saya percaya Tuhan mengatur secara langsung". Saya menghargai pendapat mereka, tapi saya pribadi, tidak percaya akan hal itu. Kemudian, saya mencoba menjawab pertanyaan mereka dari sudut pandang yang lain :

"Tuhan tidak secara langsung mengatur segala sesuatu, termasuk mengatur bergoyangnya sehelai daun, memberi ijin jatuhnya sehelai rambut. Tuhan adalah "roh" yang maha dashyat akan tetapi Tuhan tidak mendikte, tidak mengintimidasi, tidak mengancam, tidak otoriter bukan pula over protective". Tuhan menetapkan sebuah sistem dan kita hidup dalam keteraturan sistem tersebut dengan segala aksi-reaksinya.

Kita yang mewarnai kehidupan kita sendiri, warna hijau, ungu, kuning, hitam dan pink !. Jangan salahkan Tuhan bila ada orang miskin, jangan salahkan Tuhan bila ada seorang perempuan jalang yang meninggalkan suaminya dan jangan salahkan Tuhan bila seorang homo sex lebih kaya dari seorang buruh, lebih kaya dari seorang pendeta atau ustad. Mereka mendapatkan itu semua dengan susah payah dan kerja keras.

Anda boleh tidak percaya, bahwa atribut agama yang melekat pada diri kita tidak menjamin mendapatkan kehidupan yang layak daripada orang yang tidak beragama. Banyak orang 'saleh", hidupnya miskin dan terpuruk dan banyak pula orang "biadab" yang kaya raya. Banyak orang "biadab" yang terpuruk dan banyak pula yang "saleh" berkelimpahan. Lantas, hukum mana yang dapat memayungi fakta ini ?. Kita mungkin akan menjawab, " Tuhan punya rencana, kita tidak mampu memahami jalan pikiran Tuhan". 

Ada satu celah yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Celah itu adalah persoalan kecerdasan dan kegigihan. Banyak orang pintar, saleh, biadab dan pendosa yang terpuruk kehidupannya dan banyak pula yang bekelimpahan. Mereka para "pendosa" dan yang "beriman" yang mempunyai taraf hidup yang baik adalah orang yang cerdas melihat sebuah peluang dan gigih dalam berusaha. 

Istri saya kemudian bertanya sinis, "Kalau begitu, kita tidak perlu beragama ?". Saya menjawab, "Kita harus beragama dan beriman", tapi untuk menjadi manusia yang kaya raya tidak perlu harus beragama dan beriman. Orang laknat pun berhak untuk hidup berkecukupan bahkan berkelimpahan. Istri saya kemudian melempar koran kompas yang masih tergulung ke wajah saya.."prak". Saya tertawa dan mengambil koran itu dari lantai dan mengatakan, "De, coba pahami, kita tidak perlu bertanya, kenapa si pendosa dan si laknat lebih baik kehidupannya daripada orang saleh yang terpuruk". "Tuhan, memberi kita kebebasan untuk melakukan apa saja, tapi, hanya saja, waktu kita dibatasi dalam sistem yang Tuhan ciptakan". "Orang kaya dan orang miskin, hanya persoalan kecerdasan dan kegigihan. Tuhan tidak mencampuri urusan kita selagi kita tidak meminta Tuhan ikut campur".

Cangkir Kayu by sam mikael under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 unported License based on work at cangkirkayu.blogspot.com 

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....