Agama Ada Karena Tuhan Ada



Sejarah agama dimulai dari catatan manusia mengenai pengalaman spritual manusia sekitar 5000 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, pemimpin agama selalu memberikan ajaran moral dan etika kepada pengikutnya yang kemudian menghadirkan ide tentang baik dan buruk.

Sayangnya, pemahaman manusia tentang baik dan buruk sangat relatif. Nilai kebenaran, nilai baik dan buruk berbeda antar penganut agama (barangkali untuk beberapa kasus tertentu). Mungkinkah, pemimpin agama mula-mula 'salah tafsir' atas wahyu dari Tuhan ?. Sehingga ajaran agama berbeda satu dengan yang lain ?. Bila Tuhan bersabda, seharusnya sabda itu kekal dari abad ke abad. Misalnya, bila Tuhan melarang membunuh, seharusnya membunuh tidak diperbolehkan dalam kondisi apapun !. Tapi, apa yang terjadi di milenium ini ? 


Saya sangat sedih membayangkan, bahwa membunuh manusia bisa dibenarkan atas dasar ajaran agama dalam situasi dan kondisi tertentu. Sudut pandang moral dan etika yang dilahirkan oleh agama jelas menggaris bawahi bahwa membunuh itu tidak dibenarkan. Hal ini membuat pertentangan antara moral/etika dengan ajaran agama. Jika atheist benar, bahwa moral dan etika 'inherited' dalam diri manusia sebelum agama dikenal, maka agama tidak lagi membuktikan akan keberadaan Tuhan. Agama ada karena Tuhan ada, tidak lagi relevan pada era sekarang, karena tidak ada bedanya antara agama ada dan tidak ada.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....