Asli Mati Gaya: Mengalir Sampai Jauh




Saya benar-benar mati gaya, kehilangan ide dalam beberapa hari ini untuk memulai menulis di blog. Lebih kurang ada 3 judul , 'The Color of Benetton', 'Sam Mikael Almighty' dan 'Ayub' yang saya coba tulis, namun semuanya berhenti di tengah jalan. Bahkan 'pesanan tulisan' teman lama saya di Jombang yang bertema 'selingkuh', pun tak terselesaikan. Memilih menulis tentang Tuhan rasanya kurang pas buat saya pribadi akhir-akhir ini, menulis tentang tabung gas elpiji, wah, amit-amit deh. Percintaan, waduh, sudah mati rasa tuh.


Saya pernah mencoba menulis tanpa menetapkan ide terlebih dahulu. Yah persis seperti kejadian saat sekarang. Menulis tanpa ide, berharap di paragraf berikutnya saya dapat menguntai kata-kata dari inspirasi yang muncul begitu saja. Menulis mengalir, mengalir begitu saja. Hasilnya adalah sebuah tulisan yang berjudul 'Tempe Penyet'. Apapun yang muncul di kepala, saya tuliskan begitu saja apa adanya tanpa analisis lebih jauh, tanpa pertimbangan logis atau tidak. Sampai saya teringat -sekarang ini- pertemuan saya dengan penerbit buku yang ditulis oleh Dewi Lestari, 'Dee', minggu lalu di arisan komplek rumah saya, karena kami tinggal di komplek yang sama. Pembicaraan kami tidak lebih dari 10 menit. Tapi dalam waktu sesingkat itu, begitu banyak yang saya gali dari beliau mengenai dunia jurnalistik. Hebatnya lagi, tidak saya duga, istrinya yang saya kenal biasa-biasa saja ternyata seorang penulis produktif yang akan segera merilis sebuah buku sebelum akhir tahun ini.


Pertemuan dengan penerbit tersebut mengingatkan saya pada pembicaraan saya dengan salah seorang teman lama di awal minggu lalu mengenai seluk-beluk penerbitan buku. Persisnya, bagaimana menerbitkan sebuah buku dari pendanaan, penjualan dan resikonya. Teringat juga, bagaimana saya mengumpulkan tulisan-tulisan saya menjadi sebuah buku elektronik yang berlangsung sampai subuh dan bagaimana saya berkomunikasi dengan beberapa penerbit melalui 'email'. Semua kejadian itu kalau saya telusuri akan berakhir pada kata 'Tujuan'. Saya telah digerakkan oleh tujuan. Adalah hal yang pasti, semua aktifitas saya siang sampai subuh adalah langkah kongkrit untuk mencapai sasaran/tujuan saya. Bagaimana saya setiap hari menulis 'code-code' Delphi siang malam, juga untuk mengembangkan sebuah applikasi yang sangat kompleks, tentu digerakkan oleh tujuan juga. Alangkah beruntungnya hidup kita bila masih mempunyai tujuan. Alangkah membosankannya hidup ini bila kita menjalani 24 jam tanpa tujuan. Kita adalah manusia yang berada pada tingkat paling rendah ditinjau dari sisi manapun bila kita tidak mempunyai tujuan.



Di sebuah ruko di Kelapa Gading, saya dan team dari perusahaan di tempat saya bekerja sekarang selalu menghadiri sebuah pertemuan satu bulan sekali –sekarang sudah tidak lagi-. Kegiatan tersebut kami namakan, 'Coaching'. Kegiatannya hanya diskusi seputar problematika kantor dan bagaimana kami harus menyelesaikan problem tersebut. 'Coach' nya hanya jadi penonton dan hanya sedikit sekali memberikan pandangannya. Entah pada pertemuan keberapa, 'Coach' pernah mengatakan pada saat memberikan alternatif untuk sebuah kasus. Beliau mengatakan, yang pertama, 24 jam tidak pernah berubah, artinya alasan 'klise' yang mengatakan 'tidak sempat' sudah tidak berlaku lagi. Yang kedua, Dollar pasti ada, artinya, kapanpun dibutuhkan sumber dana pasti tersedia. Dengan demikian alasan untuk mengatakan improvement tidak tercipta karena kekurangan dana sudah tidak berlaku lagi. Yang terakhir, 'Coach' mengatakan, performance perusahaan tidak memuaskan terjadi karena tujuan perusahaan yang tidak jelas. Saya kembali teringat dengan sebuah buku yang pernah saya baca mengenai 'continuous improvement'. Sebuah perusahaan untuk mencapai performa tinggi harus terlebih dahulu menetapkan apa yang disebut dengan 'Master Improvment', sehingga segala aktifitas dalam organisasi tersebut mengarah pada satu tujuan yang pasti. 

Bagaimana dengan hidup kita sendiri ?. Saya tidak perlu menulis lebih jauh lagi tentang tujuan ini. Tujuan harus ditetapkan dan tujuan tersebut akan 'berbaik hati' mengarahkan segala aktifitas kita mengarah pada tujuan tersebut. Dan inilah tulisan yang dihasilkan dengan metoda baru, 'Menulis tanpa konsep terlebih dahulu dan menulis dengan mengalir'.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....