BERTANYA: KASUS PER KASUS


Kasus 1 : Tukang Cukur
Seorang pria setengah baya masuk ke sebuah 'barber shop' bermaksud untuk mencukur rambut dan jenggotnya yang sudah tidak beraturan. Untuk menghilangkan kebekuan, si tukang cukur memulai pembicaraan. "Tuhan itu tidak ada dan tidak pernah ada", Tukang cukur memancing pembicaraan. Pria setengah baya tersebut diam dan tidak memberikan tanggapan, karena tidak mau berdebat panjang lebar, karena menurut dia, pembicaraan mengenai Tuhan tidak akan ada habisnya. Si Tukang cukur pun melanjutkan, meskipun dia tidak mendapat respon. "Seandainya Tuhan ada, maka tidak akan ada kekacauan, kesengsaraan, penderitaan, pesakitan". Pria setengah baya itu tetap diam sampai dia melangkah keluar setelah membayar ongkos ke si Tukang cukur.

Sesampai di luar, dia melihat seorang pria tua yang sedang memungut sisa-sisa makanan dari dalam tong sampah. Dia terdiam memperhatikannya dan seketika dia berbalik menuju ke 'barber shop' yang dia kunjungi tadi. Dia mengajak si Tukang cukur keluar ruangan. Sambil meletakkan tangannya dibahu si tukang cukur, dia mengatakan, "Lihat, Tuhan itu ada". Si Tukang cukur, menjawab. "Tuhan tidak ada !". Si pria lalu menunjuk ke arah pak tua si pemulung sambil berkata, "Kekacauan, penderitaan, kesengsaraan ada, karena manusia tidak datang pada Tuhan". "Lihat, pemulung itu, jenggotnya panjang tidak teratur, karena dia tidak datang ke Anda untuk dibersihkan". "Jenggotnya panjang, bukan berarti tukang cukur tidak ada, melainkan dia tidak datang ke pada tukang cukur".

-Dari berbagai sumber-
Kasus 2: Doa dan Orang Gila
Istri saya bertanya dalam pembicaraa kami pada saat kami menuju Glodok untuk membeli sesuatu. Pertanyaan itu 'pop-up' begitu saja, ketika istri saya melihat seorang 'pria gila' di pinggir jalan. Kemudian dia bertanya kepada saya. 'Apakah orang gila yang tidak sadar itu mengenal Tuhan ?, Apakah mereka akan diselamatkan ?. Apakah mereka berdoa ?'. Sejenak aku terdiam untuk mengumpulkan beberapa referensi yang pernah saya pelajari. Kemudian saya jawab, 'Mereka, yang disebut 'orang gila', juga akan diselamatkan. Mereka juga berdoa. Karena berdoa bukan sekedar berkata-kata dengan bibir. Berdoa adalah proses komunikasi antar roh. Ketika seseorang berdoa, maka roh yang ada dalam diri seseorang tersebut akan berkomunikasi dengan roh sang pencipta. Kesimpulannya, "orang gila" juga berdoa dan akan diselamatkan.

Kasus 3: Bravely Sin
Kenapa kita dilarang untuk menghina dan merendahkan seseorang, apalagi merendahkan orang-orang yang terpinggirkan, seperti yatim piatu dan janda miskin ?. Karena mereka adalah milik Tuhan. mereka dijaga oleh Tuhan, sang pemilik. Saya mengatakan hal tersebut kepada istri saya ketika kami menerima seorang pembantu rumah tangga baru kami. Pembantu rumah tangga jangan sekali-kali direndahkan. Itu yang saya tekankan kepada istri saya. Saya melanjutkan, lebih baik, membangkang kepada Tuhan daripada merendahkan seorang manusia, ciptaannya.

Kemudian saya menambahkan, sebuah dilema, ketika kita harus memilih salah satu dari dua pilihan, dimana kedua pilihan tersebut berakibat dosa, maka lakukanlah dosa tersebut. Membangkanglah kepada Tuhan, daripada merendahkan manusia ciptaan Tuhan.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....