Ketoprak Humor: Ludruk dengan Lakon Dwi Kuncoro

Dalam tulisan saya yang berjudul 'Tempe Penyet', saya menjelaskan salah satu strategi marketing dalam penamaan makanan yang sering kita temui sehari-hari. Sebut saja, teh pocong, rawon iblis dan lain-lain. Kali ini tentang ketoprak, ketoprak humor. Entah kenapa kata ketoprak disandingkan dengan humor. Ketoprak dalam hal ini menjadi korban kebengisan kata humor. Ketoprak menjadi terkesan ketoprak yang asal-asalan dan menjadi sesuatu hal yang lucu dan tidak serius. Padahal si Abang pembuat ketoprak tentu tidak pernah main-main mengolah bumbu ketopraknya. Kasihan si ketoprak.

Dalam tata bahasa Indonesia, sebuah kata dapat berubah arti bila kata benda disandingkan dengan kata sifat. Misalnya kata benda rumah dan kata sifat sakit yang menjadi rumah sakit. Padanan kata baru tersebut akan menghasilkan arti yang berbeda dengan kata pembentuknya. Dalam bahasa Melayu lain lagi, kata benda bilik disandingkan dengan kata kerja merenung, menghasilkan bilik merenung yang berarti toilet atau kakus untuk buang hajat. Dalam hal ini orang Melayu lebih kreatif berbahasa. Toilet atau kakus menjadi tempat merenung pada saat buang air besar.

Bagaimana bila kita menyandingkan kata keputusan dengan kata humor menjadi keputusan humor ?. Tentu Anda pasti membatin bahwa maksud dari kata majemuk keputusan humor adalah keputusan yang lucu dan tidak masuk akal. Bagaimana pula dengan pimpinan humor ?. Masakan humor ada pimpinannya ?. Mungkin maksudnya adalah, pimpinan yang sering yang melucu. Masakan, pimpinan setiap hari melucu tanpa pernah serius dalam bekerja. Atau barangkali pimpinan yang segala tindak tanduknya selalu mengeluarkan keputusan-keputusan yang membuat lucu?. Opsi ketiga mungkin lebih tepat untuk menjelaskan kata majemuk pemimpin humor.

Seperti apa sebenarnya, pemimpin humor ? sebutlah namanya, jeneng e, 'Dwi Kuncoro'. Katakanlah Dwi Kuncoro adalah boss di kantor Anda, sebuah perusahaan konstruksi. Karena pemimpin menghasilkan keputusan maka pemimpin humor akan menghasilkan keputusan humor pula. Dwi Kucoro, pemimpin humor akan selalu mengeluarkan keputusan atau bersikap selalu berdasarkan seleranya tanpa memikirkan implikasinya. Dasar memang sudah pemimpin humor, tentu seleranya pasti humor. Misalnya, selalu memojokkan Anda di ruang meeting sekeras apapun Anda telah bekerja. Selalu menyalahkan Anda sebenar apapun Anda telah bekerja. Di matanya, Anda adalah manusia yang tidak pantas untuk diajak berdiskusi. Sudut pandang Anda tidak penah dimengerti oleh nya.

Biasanya, pemimpin humor akan merangkul karyawan yang suka humor pula yang dikenal dengan nama kacung. Pemimpin humor akan dikelilingi oleh kacung-kacung yang bahu membahu untuk memoles citra pemimpin humornya. Ciri khas kacung ini adalah, mengklaim sesuatu adalah pekerjaannya bila itu baik dan mengkambing hitamkan orang lain bila itu tidak baik. Pemimpin humor akan selalu menciptakan konflik sehingga kacung-kacungnya leluasa bergerak berharap yang tidak kacung menerbitkan surat resign dan kacung-kacung akan bebaris sempurna untuk meneriakkan kata 'Merdeka'. Lucunya, kacung-kacung ini selalu memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi. Kacung, biasanya akan berkata-kata dengan curahan roh kesempurnaan yang diturunkan dari langit dengan mengatas namakan kemajuan perusahaan untuk menutupi kecurangannya. Misalnya, alasan cost reduction sembari menerbitkan purchase order ke perusahaan kerabatnya. Menurunkan harga dengan mengatasnamakan continuous improvement tanpa memperhatikan 'QD', Quality dan Delivery. Mereka lupa, disamping 'C', Cost ada 'Q' yang mendahului dan diakhiri dengan 'D'. Artinya, pikirkan terlebih dahulu kualitas, baru kemudian  harga dan selanjutnya, pikirkan masalah pengiriman. Itulah sebabnya, 'QCD' selalu ditambah dengan 'M', Morale, untuk menahan laju kecepatan kacung. 'QCD' tidak berarti apa-apa bila 'M', morale tidak dihiraukan.. Tetapi, kacung tetap kacung. 'M', Morale adalah nomor 100. Selama pemimpin humor merestui, hajar terus. 'Mainkan', kata preman Siantar.

Nikmatnya seorang kacung adalah, selalu mendapatkan fasilitas berbeda dengan yang lain. Anda disuruh naik sepeda ontel buatan tahun 1890 (sebelum kakek Anda lahir), sedangkan kacung dengan tunggangan roda dua empat tak dengan dua busi yang dapat berubah menjadi robot yang bisa bermain basket di lapangan parkir mall. Humor banget kan ?.

Ah, kembali ke take or leave it. Pemimpin humor tetaplah pemimpin humor dengan keputusan humornya. Apakah Anda harus bertahan dengan lakon Dwi Kuncoro ?. Bila Anda larut dengan lakonnya, maka Anda bisa berubah jadi kacung dengan catatan Anda tidak punya idealisme dan mengukur segala sesuatu dengan uang dan fasiliitas. Kalau Anda seorang yang punya idealisme, sah-sah saja Anda untuk bertahan dalam lakon Dwi Kuncoro. Kata pepatah, 'Seasin-asin nya air laut, seekor ikan tetaplah gurih'.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....