Tamu, Bertamu : Teroris

Tadi pagi saya mengerutkan dahi mendengar komentar salah seorang narasumber yang saya lupa namanya, sebutlah namanya si Be[gj]o, karena memberikan jawaban yang diluar akan sehat (saya), menjawab pertanyaan Sidney Jones. Berikut petikan pembicaraan mereka. Tentu saja tidak sama persis, tapi saya yakin, substansi pembicaraan mereka terekam dengan baik di bawah ini.


Si Be[gj]o       : '…blab la bla…'
Sidney Jones   : ' Seandainya Nurdin M Top datang ke rumah Anda, Apa yang Anda lakukan ?'
Si Be[gj]o       : ' Saya akan menerima Nurdin M Top dengan baik dan menasehati dia'
Sidney Jones   : ' Anda tidak akan melapor ke polisi?'
Si Be[gj]o    : ' Tidak, saya tidak akan melapor ke polisi. Saya akan menasehati dia supaya tidak           melakukan teror di negeri ini. Kalau mau melakukan teror, silahkan di Malaysia sana !'.

Sidney Jones kemudian mengarahkan wajahnya ke indy, host acara Apa Kabar Indonesia Pagi dan berkata :

Sidney Jones    : ' Pemikaran seperti inilah yang menyulitkan polisi menangkap Nurdin M Top'
Si Be[gj]o        : ' …saya harus menghormati tamu…bla bla bla…'

Nurdin M Top kecil kemungkinan datang ke rumah saya dan mengajak saya minum kopi sambil beramah tamah. Seandainya itu terjadi, saya akan menekan tombol handphone saya : '112' dan membiarkan pembicaraan kami di dengar oleh polisi. Saya akan menyelipkan martil kecil di saku saya, karena begitu dia mengangkat handphone, ta getok kepalanya, karena pasti, dia akan meledakkan bom di suatu tempat, karena dia tidak akan mau mem bom dirinya sendiri. Saya yakin akan hal itu, dia tidak akan pernah melakukan sendiri aksi bom bunuh diri. Nurdin M Top, akan selalu merekrut orang lain dan mencuci otaknya kemudian meyakinkan misi bom bunuh diri adalah tindakan mulia. Ironisnya, Nurdin M Top, hanya melakukan misi pengrusakan dan teror di negeri ini, bukan di Malaysia.

Malam sebelum menulis tulisan ini, saya berfikir keras, kenapa Indonesia bisa dijajah oleh Belanda begitu lama ? 350 tahun, waktu yang sangat lama buat ukuran umur manusia. Kenapa Belanda sukses menjajah negeri ini ?. Kemudian saya menjawab sendiri, bahwa karakter bangsa ini sangat mudah untuk diadu domba dan sangat mudah terhanyut dengan buaian janji-janji manis. Apakah Nurdin M Top belajar dari Belanda ?

Hmm..kita semua diajarkan untuk menghormati tamu, siapapun itu harus diterima dengan baik. Akan tetapi, kalau seorang teroris datang bertamu, apakah kita harus membiarkan dia pergi melenggang kangkung begitu saja setelah menghabiskan 2 gelas kopi dari cangkir kayu yang saya suguhkan ?.

Ternyata benar, umur tidak menentukan kematangan dalam berfikir. Fanatisme membutakan mata, membutakan mata hati. Fanatisme mampu membuat seseorang tidak rasional lagi. Kebenaran memang relatif. Kalau semua orang di republik ini mempunyai pemikiran yang sama dengan si Be[gj]o, sampai kapanpun Nurdin M Top tidak akan tertangkap. Negara ini akan habis dibom !

be[gj]o, be[gj]o…call 112 if you meet Nurdin M Top

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....