Kualitas: Antara Dihasilkan dan Dikontrol

Kualitas tidak dikendalikan, tetapi dihasilkan. Meningkatkan kualitas produk atau jasa, bukan dengan cara meningkatkan kontrol kualitas di proses akhir, akan tetapi selalu memulai proses/pekerjaan dengan cara yang tepat dan benar dan ditambah dengan peningkatan pemahaman filosofi mutu sejak dini. Bukan berarti mau mengecilkan pentingnya kontrol kualitas di proses produksi, akan tetapi, pemahaman bahwa, kualitas tidak dikendalikan melainkan dihasilkan harus ditanamkan kepada setiap pekerja di organisasi tanpa kecuali.

Jadi, persoalan peningkatan kualitas adalah persoalan manusia. Tantangannya adalah, bagaimana menciptakan pekerja mempunyai pengertian yang benar terhadap kualitas. Perusahaan yang mampu menciptakan pekerja yang berorientasi pada kualitas dapat dipastikan, produktifitas akan meningkat dengan sendirinya. Meningkatnya standart mutu dan produktifitas akan menurunkan biaya produksi (karena peningkatan mutu akan mengurangi aktifitas pengerjaan ulang, mengurangi bahan terbuang, meningkatkan processing time dan lain-lain ) dan berakhir pada meningkatnya laba perusahaan. Analogi rel kereta api yang selalu berseberangan, akan tetapi mampu membawa gerbong ke tujuan akan tidak berlaku lagi apa bila kualitas dihasilkan selama proses produksi. Kualitas harus terlahir sejak produk atau jasa belum dihasilkan atau diproduksi, artinya, kualitas sudah harus terlahir telebih dahulu dalam diri pekerja sebelum memulai pekerjaannya.

Oleh karena kualitas sebenarnya adalah persoalan mental manusia, maka peran dari HR (Human Resource) akan menjadi sangat strategis. HR harus mampu mengubah paradigma pekerja terhadap kualitas. Kemampuan HR menciptakan pekerja yang unggul, secara langsung akan menjadikan HR sebagai mitra strategis perusahaan dan bukan hanya sebagai administrator.

Saya sangat tertarik dengan kalimat, 'Sebelum cacing berubah jadi ular, segera injak cacingnya'. Saya menerjemahkan kalimat tersebut dalam kaitannya dengan menghasilkan pekerja yang unggul. Artinya, pekerja harus dibina dan dididik dengan baik sejak awal termasuk pemahaman terhadap kualitas dan nilai-nilai perusahaan. Jangan membiarkan pekerja 'tumbuh' liar tanpa kendali sehingga menghasilkan pekerja 'ular naga' dengan kompetensi rendah.

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....