Bodoh Untuk Setia : Abdul Band

Abdul Band nama yang masih asing di telinga saya, bukan karena ejaannya yang tidak familiar akan tetapi karena jarang terlihat tampil di televisi. Saya menyaksikan mereka tampil di TV One beberapa hari yang lalu membawakan sebuah lagu dengan judul 'Bodoh Untuk Setia'. Karena tertarik dengan judul lagu mereka, saya memutuskan untuk tetap berdiri di depan televisi beberapa saat menunggu sampai refrain lagu tersebut. Dan binggo, syairnya berbunyi (kira-kira), 'meskipun orang mengatakan kamu tidak layak dicinta, saya tetap bodoh untuk setia'. Musiknya sederhana saja dan tidak sampai membuat saya untuk duduk sejenak sampai lagunya usai. Begitu refrain usai saya langsung meninggalkan televisi dan membiarkan Abdul Band bernyanyi tanpa penonton.

Kalau saya membandingkan syair lagu Abdul Band 'Bodoh Untuk Setia' dengan 'Mencintaimu' lagu yang dibawakan dengan mendayu-dayu oleh Kris Dayanti, maka saya akan lebih memilih lagu 'Bodoh Untuk Setia' dengan alasan kesederhanaan. Syair 'Mencintaimu' menurut saya terlalu 'berlebihan' dan terlalu 'dalam'. Tentu ini soal rasa, Ya..karena saya lebih menyukai syair yang sederhana, music yang sederhana, tulisan yang sederhana tanpa saya harus menyatukan kedua alis mata saya untuk berfikir untuk mengerti.

Judul lagu Abdul Band mencerminkan kesederhanaan namun nan bermakna. Kesederhanaan terletak pada ketulusan untuk tidak terlalu risau bahkan menjadi bimbang dengan pandangan orang terhadap sosok yang kita telah pilih untuk dicintai. Lebih jauh menelusuri syair lagu tersebut, maka kita akan menemukan syair yang menggambarkan penerimaan total dan apa adanya pada pasangan. Saya setuju dengan Abdul Band mengenai perimaan total, karena penerimaan sedemikian terhadap pasangan akan meruntuhkan idealisme dan mengusangkan nilai-nilai.

Mungkin dari dulu Anda mendambakan seorang istri yang perawan, tapi pada saat Anda tergila-gila dengan gadis liar yang Anda tiduri, maka Anda pun lupa pada syarat yang sedari dulu Anda tetapkan dan Anda pun menikahinya. Penerimaan secara total membuat Anda lupa akan kriteria seorang istri yang harus perawan. Pasangan suami-istri yang lebih sering miskin dalam komunikasi dari pada keceriaaan akan tetapi rumah tangga tersebut tetap terjaga, itu pun karena suami-istri tersebut telah 'bodoh' dengan situasi mereka dan menerima kenyataan yang ada. Pernikahan seperti itu bertahan, lebih dikarenakan oleh komitmen daripada perasaan. Cerminan lain dari penerimaan total adalah kepercayaan pada Tuhan. Berapa kali Anda mendengar ejekan bahwa Tuhan yang Anda sembah adalah dongeng belaka ? Berapa kali Anda dicap bodoh oleh mereka karena kepercayaan Anda ?. Tetapi Anda tetap teguh pada kepercayaan Anda meskipun belum pernah sekalipun melihat Tuhan. Mengapa keteguhan sedemikian bisa terjadi ?. Hal tersebut dikarenakan penerimaan total Anda akan keberadaan Tuhan. Anda percaya pada Tuhan apapun yang dikatakan orang lain.

Bodoh dalam judul lagu Abdul Band tidak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan seseorang. Bodoh dalam pengertian judul lagu tersebut adalah keteguhan pada pilihan. Tidak perlu harus ragu bila sudah memutuskan sesuatu, karena itu, pilihan harus dipertimbangkan matang-matang (tapi jangan kelamaan). Yang perlu kita tanamkan adalah keteguhan hati pada putusan atau pilihan tersebut. Keteguhan jangan sampai luntur, seperti yang di alami oleh Raja Kaushika yang mengalami kegagalan dalam pertapaannya karena digoda oleh kecantikan Menaka.

Lalu bagaimana dengan keteguhan pada pilihan yang menurut sudut pandang kita terlihat bodoh. Misalnya aksi bom bunuh diri dengan alasan perintah Tuhan ?. Buat sebagian orang, aksi bom bunuh diri adalah tindakan bodoh, konyol, kriminal dan berdosa karena telah membunuh atau melukai orang yang tidak tahu apa-apa. Akan tetapi buat komunitas bomber tersebut, aksi bom bunuh diri adalah tindakan mulia. Buat mereka, label bodoh yang disandangkan ke bahu mereka tidak ada artinya dan mereka masa bodoh dengan label tersebut. Dalam hal keteguhan pada kepercayaan dan pilihan, saya mengagumi mereka yang berani sampai mati dengan cara bom bunuh diri demi memperjuangkan kepercayaan mereka tapi mengutuk jalan yang mereka tempuh, karena sudah membunuh dan melukai orang lain.

Para teroris dengan aksi bom bunuh diri berani mati karena keteguhan pada kepercayaan atau keteguhan pada perjuangan. Mereka mati bukan dengan tanpa tujuan, akan tetapi mati karena satu tujuan. Sepatutnya, manusia tidak layak untuk hidup bila tidak mempunyai tujuan untuk mati. Kita hidup untuk kemudian mati dan untuk mati kita harus punya tujuan. Karena itu, matilah dengan sebuah tujuan, tentu dengan tujuan yang mulia menurut hukum Tuhan dan hukum positif dan jangan merugikan orang lain apalagi menyakiti.

Namun, manusia tetaplah manusia. Ada yang muncul dipikiran saya sekarang. Seandainya suami atau istri Anda selingkuh, akan kah anda tetap bodoh untuk setia ?. Setia pada komitmen barangkali iya, tapi setia pada cinta barangkali tidak. Benarkah ?

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....