sApi

Aku ada ditingkat 2 ketika kalian berkumpul seperti sapi di padang rumput. Dari mulutmu menetes lendir dan ludah mu. Sesekali asap keluar dari hidungmu dari tembakau yang kalian bakar. Uhh sapi sapi perokok, kakimu kotor tak kau hiraukan. Pantat mu berlumur tanah basah karena hujan tadi malam pun tak kau indahkan. Terbesit kebanggaan dalam pikiranmu dengan apa yang sedang kalian lakukan. Bukankah kambing saling beradu tanduk setiap kali birahi dengan betinanya ?

Aku ada di atas sini, duduk sambil mataku dan jemariku merangkai kata membuat kalimat dan kulayangkan ke langit.

Aku ada di atas sini, duduk sambil berfikir tentang keadilan. Sesekali kulihat ke bawah. Sapi sapi berkumpul sambil memamah biak dan berisik sekali. Kenapa tidak ikuti saja kata hatimu tidak mendengarkan omongan si rakus haina.

Aku ada di sini di tingkat 2 dan aku bukan si singa si raja. Ya aku singa, singa di kebun binatang. Si buas yang diberi makan. Kuku tajamku sudah dipotong. Ya aku si singa dari madagaskar yang suka makan rumput bukan daging.

Aku ada di sini di tingkat 2. Sapi sapi belum puas dengan kebisingannya, mulutnya masih berlendir. Asap tembakaunya sudah membuat sesak. Teruslah berbuat gaduh. Aku juga tidak ambil peduli lagi karena kukuku sudah dipotong dan dipertontonkan di kebun binatang.

Aku panas hati, mendidih melihat pawang dengan cemetinya sambil makan kacang tak peduli. Aku memikirkan apa gerangan yang dipikirkannya tapi aku tak bisa menangkapnya. Atau barangkali dia sudah seperti singa tua yang tiada daya ?

Sapi sapi pulanglah ke kandang...

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....