Kutunggu Jandamu


Entah alasan apa si supir truk yang sedang di depan omprengan yang saya tumpangi menuliskan sebuah kalimat dalam bahasa jawa 'Sri ! ta enteni rondo mu' disamping gambar seorang perempuan setengah telanjang yang jauh dari kategori indah dalam sebuah perjalanan menuju Cikarang sepanjang jalan tol Cikampek. Saya kemudian bertanya-tanya dalam hati, 'Sejauh mana ketulusan hati seorang pria bila mengatakan kalimat seperti itu kepada seorang perempuan?'. Apakah pernah terjadi seorang pria menunggu seorang perempuan sampai menjanda? Bagaimana pula kalau si Sri menjanda setelah umur 80 tahun ?'.

Sepanjang perjalanan, saya bergelut dengan sepenggal kalimat yang tertulis di belakang truk pengangkut ayam potong tadi yang sudah terlanjur meracuni pikiran saya. 'Ah si Yono ada-ada saja' setengah berbisik saya memberi nama Yono sebagai pemeran utama pria pada opera van java ini. Apa yang memotivasi Yono dengan gagah beraninya berkata ' Baiklah Sri, aku tunggu janda mu !'. Apakah sekedar ingin menepis rasa kegagalan yang tiba-tiba datang sehingga Yono perlu bersembunyi di balik perkataan yang sangat berani itu ?. Ataukah benar adanya, gelora asmara Yono begitu dasyat sehingga menjadikan Yono tidak rasional lagi ?
'Maafkan aku Yon ! kalau aku menganggap sampean tidak rasional' gumanku ketika omprengan sampai di pintu tol Cikarang 2. Sebelumnya saya sudah menghakimi Yono adalah pria yang tidak tau malu dan seorang pecundang yang tidak mempunyai kemampuan untuk menerima penolakan dan tidak mampu mencari perempuan lain selain Sri. Yono adalah pria kasmaran yang tidak tau malu yang mengira Sri adalah satu-satunya perempuan di planet ini.
Namun, seketika saya berpandangan lain setelah mengingat taktik negosiasi yang pernah saya baca di internet. 'Yono adalah seorang negosiator ulung', saya berbicara sendiri sampai perempuan berseragam BCA di depan saya melihat dengan pandangan penuh tanda-tanya, seakan-akan saya adalah anggota komunitas manusia stress di Jakarta karena kemacetan tol Cikampek. 'Teruskan perjuanganmu Yon ! Raih cinta Sri pujaanmu' gumanku lagi. Bukankah seorang negosiator seorang pembicara ulung juga ?. Bukankah Yono telah berbicara kepada Sri dengan bahasa tubuh dan mimik wajah yang meyakinkan ?

Yono menyadari ada preferensi yang berbeda antara dia dan Sri. Preferensi itulah yang ingin dia damaikan dengan mengatakan 'Sri ! kalau kamu tidak bersedia menerima cintaku, maka aku akan menunggu sampai kamu jadi janda!'. Saya membayangkan Yono membelakangi Sri sambil mengatakan kalimat itu ketika mereka berduaan di bawah pohon jambu di dekat pos siskamling di desa Tenggorowo, Kabupaen Trenggalek, Jawa Timur (gak penting banget ya)
Saya tidak kenal Yono, karena memang tokoh fiktif dan saya tidak tau sejauh mana ketulusan perkataan Yono kepada Sri, sehingga saya tidak bisa memilih jenis negosiator mana yang harus saya sandangkan ke bahunya. Apakah Yono jenis negosiator value claimer yang ingin berusaha meraih cinta Sri dengan cara apapun tanpa perduli isi hati Sri dengan mengumbar perkataan yang belum tentu keluar dari hati nuraninya sehingga Sri akan menjadi ketakutan karena akan dibayang-bayangi oleh Yono dalam waktu yang panjang, akhirnya menerima cinta Yono?. Ataukah Yono seorang negosiator value creators yang ingin mendamaikan preferensi yang berbeda dengan mengatakan sebuah kalimat yang bisa meluluhkan hari Sri yang merasa ditawari sebuah hubungan yang didasari ketulusan cinta yang tersirat dalam perkataan Yono, sehingga Sri menerima cinta Yono ?.
Entahlah…biarlah hanya Yono yang tau maksud perkataannya kepada Sri dalam opera van java kali ini, saya tidak mau ikut campur !

Featured post

Kembalinya Cangkir

yak..kini sudah kembali, sekian lama terbengkalai blog ini kembali dihidupkan dari mati suri....